Rabu, 13 November 2019

Hans Taliak Makalah

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pribadi seseorang akan dinilai baik apabila ia memiliki kepribadian yang baik. Kita sebagai manusia hanya dapat mengenal pribadi orang lain kalau orang tersebut sudah memperkenalkan dirinya kepada anda. Tetapi orang lain yang sering melihat anda dari jauh, mereka pun akan merasa bahwa mereka sudah mengenal anda karena mengamati gaya dan gerak anda. Disini yang mereka lihat bukanlah anda melainkan kepribadian anda. Dalam pengertian sederhana, filsafat diartikan sebagai kepribadian jatidiri dan pandangan hidup seseorang, masyarakat atau bangsa. Bangsa Indonesia memiliki pandangan filsafatnya tersendiri, yaitu pancasila. Pancasila sendiri menjadi dasar dan sekaligus tujuan pendidikan nasional. Dengan kata lain sistem pendidikan nasional disusun atas dasar filsafat pendidikan Pancasila. Bila pendidikan dikembalikan pada fungsinya sebagai usaha untuk mengembangkan potensi individu dan sekaligus sebagai usaha untuk mewariskan nilai-nilai budaya, maka pendidikan juga menyangkut pembentukan kepribadian. Pendidikan berkaitan dengan usaha untuk mengubah tingkah laku, sedangkan kepribadian berhubungan dengan pola tingkah laku. Setidaknya kepribadian dapat dilihat dari empat aspek muatannya. Pertama, aspek personalia, yaitu kepribadian dilihat dari pola tingkah laku lahir dan batin yang dimiliki seseorang. Kedua, aspek individualisme, yaitu karakteristik atau sifat-sifat khas yang dimiliki seseorang, hingga adanya sifat-sifat khas yang dimiliki secara individu. Ketiga, aspek mentalitas, sebagai perbedaan yang berkaitan dengan cara berpikir. Mentalitas sebagai gambaran pola pikir seseoran. Keempat, aspek indetitas, yaitu kecenderungan seseorag untuk mempertahankan sikap dirinya dari pengaruh luar. Ketika kita melihat keempat aspek tersebut terlihat bagaimana hubungan antara pendidikan dan pembentukan kepribadian, dan hubungannya dengan filsafat pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai dan pandangan hidup suatu bangsa. Dalam kehidupan sehari-hari kita perlu mempelajari kepribadian orang lain, bukan bermaksud untuk mencari kesalahan orang lain melainkan agar dalamdalam kehidupan bermasyarakat kita tidak salah dalam memilih orang lain untuk bergaul, dapat menghindari sisi negatif dari pengaruh sosial dan lain sebagainya. B. Rumusan Masalah · Apa itu Filsafat ? · Apa itu Kepribadian? . Bagaimana hubungan antara Filsafat dan Kepribadian? . Bagaimana hubungan antara iman Kristen, Filsafat dan Kepribadian? C. Tujuan Masalah Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah: 1. Agar kita sebagai pembaca dapat menambah wawasan tentang hubungan antara Filsafat dan kepribadian dalam iman Kristen, sehingga dalam hidup bersosialisasi dengan orang lain kita dapat memahami kepribadian diri sendiri dan juga dalam diri seseorang. 2. Sebagai tugas dari dosen pembimbing Filsafat pendidikan Kristen. D. Manfaat Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah, Agar dapat menjadi referensi tambahan untuk seorang pendidik, maupun terdidik dalam pengembangan akan pengetahuan Pendidikan Agama Kristen terlebih tentang Filsafat dan Kepribadian. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Filsafat Filsafat pada dasarnya menurut arti katanya berasal dari istilah Yunani Philos dan Sophia, yang berati “cinta akan hikmat” atau “cinta akan pengetahuan” atau “cinta akan kebijaksanaan”. Jika dilihat dari arti kata filsafat ini, maka dapat dikatakan bahwa orang yang suka berfilsafat (seorang filsuft ) adalah seorang pencinta, pencari hikmat, kebijaksanaan, atau penegetahuan. Berfilsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dan kearifan. Filsafat berusaha menuangkan dan membuat garis besar dari masalah-masalah dan peristiwa yang pelik dari pengamatan umat manusia. 1. Hakikat Filsafat Filsafat pada dasarnya menurut arti katanya berasal dari istilah Yunani Philos dan Sophia, yang berati “cinta akan hikmat” atau “cinta akan pengetahuan” atau “cinta akan kebijaksanaan”. Jika dilihat dari arti kata filsafat ini, maka dapat dikatakan bahwa orang yang suka berfilsafat (seorang filsuft ) adalah seorang pencinta, pencari hikmat, kebijaksanaan, atau penegetahuan. Akan tetapi, apa bijak atau bijaksana itu? Enchyclopedia of Philosophy (1967:216) menyatkan bahwa wisdom sebagai terjemahan sophia, pada zaman Homerus luas sekali maknanya dari segi bahasa. Ia bukan saja pandai atau mendalam dalam bidang intelektual, lapangan mana saja yang disana intelegensi dapat dipakai adalah lapangan kebijakan. Bahkan Homerus menyebutkan bahwa tukang kayu juga adalah tukang kayu juga adalah orang yang bijak. Kalau begitu, tinjauan ini tidak mampu menjelaskan pengertian filsafat. Perkataan sophia itu sudah mempunyai persoalan. Berikut ini beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa pengarang, sesuai dengan konotasi filsafat yang ditangkap oleh mereka. Poedjawijatna (1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Hasbullah Bakry (1971:11) mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. Plato mengatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli, dan bagi Aristoteles filsafat adalah pengetahuan yang meliputi ke benaran yang tergabung didalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika; dan bagi Al-Farabi filsafat ialah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya. Phytogoras, orang yang mula-mula menggunakan kata filsafat, memberikan definisi filsafat sebagai the love for wisdom. Menurut Phytagoras, manusia yang paling tinggi nilainya ialah manusia pencinta kebijakan (love for wisdom), sedangkan yang dimaksud olehnya wisdom ialah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan. Ia membagi kualitas manusia menjadi tiga tingkatan: lovers of wisdom, lovers of succes, dan lovers of pleasure (Mayer, 1950:26). Immanuel Kant mendefinisikan filsafat sebegai pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan yang tercakup didalmnya terdapat empat persoalan: - Apa yang dapat diketahui? (jawabannya: Metafisika.) - Apa yang seharusnya diketahui? (Jawabanya: Etika.) - Sampai dimana harapan kita? (Jawabannya: Agama.) - Apa itu manusia? (Jawabannya: Antropologi.) (Bakry, 1997:11). Sedangkan menurut John Chaffe, mendefinisikan filsafat tidak terlepas dari empat aspek penting, yaitu: • Aspek Wonder (Keheranan) Mempelajari filsafat karena keheranan, pertanyaan akan sesuatu yang ada atau terjadi. • Aspek Wisdom (Kebijaksanaan) Mempelajari filsafat karena mencari esensi dari sesuatu, mencari kebenaran, dan mencintai kebijaksanaan. • Aspek Thurth (Kebenaran) Filafat adalah ilmu yang mempertimbangkan kebenaran-kebenaran hakiki. • Proses yang dinamik-A Dynamic Process Mempelajari filsafat berawal dari proses, dari runtutan konflik opini-opini, dan terus-menerus sampai memperoleh jawaban yang memuaskan. Perbedaan definisi tentang filsafat ini menurut Abu Bakar Atjeh (1970:9) disebabkan oleh berbedanya konotasi filsafat pada tokoh-tokoh itu karena perbedaan keyakinan hidup yang dianut mereka. Berfilsafat berarti berpikir, akan tetapi tidak semua berpikir dikatakan atau dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila cara berpikir itu radikal, sistematis, dan universal. Sidi Gazalba menjelaskan bahwa berpikir radikal artinya bahwa berpikir sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, sampai kepada konsekuensi yang terakhir. Berpikir itu tidak separuh-separuh, tidak berhenti di jalan, tetapi terus sampai keujungnya. Yang dimaksudkan berpikir sistematis artinya berpikir logis yang bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggung jawab dan saling berhubungan dengan teratur. Berpikir universal artniya bahwa tidak berpikir khusus, yang hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu, melainkan mencangkup keseluruhan. Filsafat ini sebenarnya ada pada diri masing-masing pribadi, mengapa demikian? Seseorang akan mulai berfilsafat ketika ia takjub, Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Metafisika mengatkan, ketakjuban membuat manusia berfilsafat. Awalnya manusia takjub memandang benda-benda aneh disekitarnya, lama-kelamaan ketakjubannya semakin terarah kepada hal-hal yang lebih luas dan besar, seperti perubahan dan peredaran bulan, matahari, bintang-bintang dan asal mula alam semesta. Aristoteles adalah murid dan juga teman serta guru Plato, ia adalah orang yang mendapat pendidikan yang baik sebelum menjadi filosof. Didalam dunia Filsafat, Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika. Logikanya disebut logika tradisional karena nantinya berkembang apa yang disebut logika modern. Selain itu seseorang akan mulai berfilsafat ketika ia merasa tidak puas. Sebelum filsafat lahir sebagai berbagai mitos memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hatta dalam bukunya, Alam Pikiran Yunani menjelaskan bahwa setiap bangsa pastinya mempunyai dongeng takhayul. Ada yang terjadi dari kisah perintang hari, keluar dari mulut orang yang suka bercerita. Ada yang terjadi dari muslihat menakut-nakuti anak supaya anak tidak nakal. Ada pula yang timbul dari kejadian alam pangkal heran dan takut. Dari itu orang menyangka alam penuh oleh dewa-dewa. Lama-kelamaan timbul berbagai fantasi. Dengan fantasinya itu manusia dapat menyatukan ruhnya dengan alam sekitar. Orang yang membuat fantasi itu tidak ingin membuktikan kebenaran fantasinya karena kesenangann ruhnya terletak pada ruhnya itu. Tetapi kemudian ada yang tidak percaya, ada yang bersifat kritis, lama kelamaan timbul keinginan pada kebenaran. Jadi dongeng dan takhayul juga dapat menimbulkan filsafat. Di antara orang-orang ada yang tidak percaya begitu saja. Ia kritis, ingin mengetahui kebenaran dongeng itu. Begitu juga apabila seseorang ragu atau mempertanyakan sesuatu dengan maksud untuk memperoleh kejelasan dan keterangan mengenai sesuatu yang dipertanyakan itu. Pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh keterangan dan penjelasan yang pasti pada hakekatnya menunjukan adanya keraguan dipihak manusia yang bertanya. Dalam keingintahuannya itulah akan memuluai seseorang untuk berfilsafat. Jadi pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan empiris. Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistomologi, dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan kesatuan: • Ontologi, membicarakan hakikat (segala sesuatu); ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu; • Epistomologi, cara memperoleh pengetahuan itu; • Aksiologi, membicarakan guna pengetahuan itu. 2. Epistomologi Filsafat Epistomologi adalah cabang filsafat yang membicarkan tentang dasar-dasar, sifat, batas-batas, dan keabsahan ilmu pengetahuan; teori pengetahuan. Dalam epistomologi filsafat hanya membahas tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat. a. Objek Filsafat Seperti yang telah dibahas diatas, tujuan seseorang mulai berfilsafat ialah karena ingin menemukan suatu kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Dan ketika hasil pemikiran itu disusun, maka susunan itulah kita sebut Sistematika Filsafat. Sistematika atau Struktur Filsafat dalam garis besar terdiri atas ontologi, epistomologi dan aksiologi. Isi dari pada setiap cabang filsafat pastinya ditentukan oleh objek apa yang diteliti (dipikirkannya)-nya. Ketika seseorang berpikir pendidikan maka jadilah Filsafat Penididikan. Jika yang dipikirkanya hukum maka hasailnya tentulah Filsafat Hukum. Dalam filsafat objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sains. Dalam sains hanya meneliti objek yang ada, sedangkan dalam filsafat meneliti objek yang ada dan yang mungkin ada. Dalam sains juga hanya meneliti objek-objek yang ada dan empiris; yang ada tetapi abstrak (tidak empiris) tidak dapat diteliti oleh sains. Sedangkan dalam filsafat meneliti objek yang ada tetapi abstrak, adapun yang mungkin ada, sudah jelas abstrak, itu pun jika ada. b. Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat Berfilsafat berarti berpikir. Berpikir itu tentu menggunakan akal. Sejak tahun 650 SM sampai berakhirnya filsafat Yunani, akal mendominasi. Selama 1500 tahun sesudahnya, yaitu selama Abad Tengah Kristen, akal harus tunduk pada keyakinan Kristen; akal dibawah, agama (Kristen) mendominasi. Sejak Descrates, tokoh pertama Filsafat Modern, akal kembali mendominasi filsafat. Descrates (1596-1650) dengan cogito ergo sum-nya berusaha melepaskan filsafat dari dominasi agama Kristen. Ia ingin akal mendominasi filsafat. Sejak ini filsafat didominasi oleh akal. Akal menang lagi. Filsafat ingin mengetahui dibelakang sesuatu yang empiris. Inilah yang disebut mendalam. Tetapi itu pun mempunyai rentangan. Sejauhmana hal abstrak dibelakang fakta empiris itu dapat diketahui oleh seseorang, akan banyak tergantung pada kemampuan berpikir seseorang. Berpikir mendalam ialah berpikir tanpa bukti empirik. Kerja akal, yaitu berpikir mendalam, menghasilkan filsafat. Apakah dengan demikian berarti teori-teori filsafat itu tidak ada gunanya atau nilai kebenarannya amat rendah? Tidak juga. Ya, itulah filsafat, kadang-kadang filsafat diragukan oleh filsafat itu sendiri. Apapun kelemahan akal, bahkan sekalipun akal amat diragukan hakikat keberadaannya, karena akal telah menghasilkan apa yang disebut filsafat. Kelihatannya, ada satu hal yang penting disini: janganlah hidup ini digantungkan pada filsafat, janganlah hidup ini ditentukan seluruhnya oleh filsafat, filsafat itu adalah produk akal dan akal itu belum diketahui secara jelas identitasnya. c. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis benar, bila tidak logis, salah. Dalam berfilsafat tidak boleh menuntut bukti empiris untuk membuktikan kebenaran filsafat. Karena bila logis dan empiris, itu adalah pengetahuan sain. Kebenaran dari suatu teori filsafat ditentukan oleh logis tidaknya teori itu. Ukuran logis tidaknya tersebut akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan (teori) itu. Argumen dalam filsafat sangatlah penting, sama dengan fungsi data pada pengetahuan sain. Argumen itu akan menjadi kesatuan dengan konklusi (pendapat), konklusi itulah yang disebut teori filsafat. Bobot dari pada suatu teori filsafat terletak pada kekuatan argumen itu menjadi kesatuan dengan konklusi. Karena argumen itu menjadi kesatuan dengan konklusi, maka boleh juga diterima pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu argumen. Kebenaran konklusi ditentukan 100% oleh argumennya. 3. Aksiologi Pengetahuan Filsafat 1. Kegunaan Filsafat Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, kedua filsafat sebagai metode pemecah masalah, ketiga filsafat sebagai pangang hidup. Mengetahui teori-teori filsafat sangat penting karena dunia dibentuk oleh teori-teori itu. Filsafat sebagai teori filsafat juga perlu dipelajari oleh orang yang akan menjadi pengajar dalam bidang filasafat. Filsafat sebagai methodology, yaitu cara memecahkan masalah secara mendalam dan universal. Filsafat selalu mencari sebab terakhir dan dari sudut pandang seluas-luasnya. Filsafat sebagai pandangan hidup tentu perlu juga diketahui. Mengapa-misalnya- salah seorang presiden Amerika (Bill Cliton, 1998), mengaku telah berzina, dan masyarakatnya tetap mendukung dia. Mungkinkan hal seperti itu untuk Indonesia? Pastinya Presiden akan dicopot jabatannya oleh masyarakat Indoonesia. Mengapa berbeda? Karena masyarakat Indonesia berbeda pandangan dengan masyarakat Amerika. Filsafat sebagai philosophy of life sama dengan agama, dalam hal sama mempengaruhi sikap dan tindakan penganutnya. Bila agama dari Tuhan atau dari langit, maka filsafat (sebagai pandangan hidup) berasal dari pemikiran manusia.Thomas Aquinas mengemukakan argumen tentang Tuhan, namun argumen itu tidak dapat membawa kita memahami Tuhan secara sempurna. Karena argumen-argumen itu memiliki kelemahan. Karena itu Kant menyatakann bahwa Tuhan tidak dapat dipahami melalui akal, tetapi Tuhan dapat dipahami melalui suara hati yang disebut moral. Kant mengatakan bahwa adanya Tuhan bersifat imperatif. Dan suara hati atau moral itulah yang memerintah. Dapat disimpulkan bahwa filasafat (dalam hal ini logis) dapat berguna untuk memperkuat keimanan, ini menurut sebagian filosof, seperti Thomas Aquuinas; tetapi menurut filosof lain lain, seperti adanya Tuhan sebenarnya lemah, bukti yang kuat adalah suara hati. Suara hati itu memerintah, bahkan rasio pun tidak mampu melawannya. 2. Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah Kegunaan dari Filsafat ialah sebagai methodology, maksudnya sebagai metode dalam memandang dunia, masalah artinya kesulitan, dan pastinya kita ingin untuk meyelesasikannya, maka ada ada banyak cara yang digunakan untuk menyelesaikannya baik dari yang sederhana sampai yang rumit. Dalam menyelesaikan masalah, sesuai dengan sifatnya, filsafat meenyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam artinya, ia ingin mencari asal masalah. Universal, artinya filsafat ingin menjelaskan masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia seks bebas adalah masalah yang di anggap sebagai sesuatu yang harus di berantas. Ini penyelesaian langsung. Sedikit mendalam bila kita mengusulkan perketat masuknya informasi dari Barat terutama yang menyangkut kebebasan seks, atau mengusulkan film diperberat. Filsafat belum puas dengan penyelesaian itu. Filsafat akan mempelajari asal usul kebebasan seks itu. Ditemukan, itu muncul dari paham Hedonisme. Maka kita perangi paham itu. Filosof lain juga belum puas, karena menurutnya Hedoisme itu belum penyebab paling awal, Hedoisme itu sebenarnya turunan Pragmatisme. Pragmatisme itu bersama Liberalisme lahir dari Rasionalisme. Karena itu filosof ini mengatakan yang paling strategis ialah memerangi Rasionalisme itu. Apakah Rasionalisme itu peyebabnya kebebasan seks itu? Untuk sementara, agaknya ya. Maka untuk memberantas kebebasan seks itu adalah pemikiran yang salah. Penyelesaian yang mendalam, karena telah menemukan penyebab yang pailing asal. Penyelesaian itu juga universal, karena yang akan diperbaiki pada akhirnya kelak bukan hanya persoalan kebebasan seks, hal-hal lain yang merupakan turunan Rasionalisme juga akan dengan sendirinya hilang. B. Pengertian Kepribadian Kepribadian merupakn suatu kesatuan jiwa dan badan, yang menyebabkan adanya kesatuan dalam tingkah laku dantindakan sesorang. Ini disebut integrasi, yang berasal pola kepribadian yang dibentuk oleh sesorang. Pembentukan pola kepribadian ini malalui suatu proses interaksi di dalam dirinya sendiri dengan pengaruh-pengaruh dari lingkungan luar. a. Pengertian Secara Etimologis Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “personality” secara etimologis berasal dari bahasa Latin”person” (Kedok) dan “personare” (menembus). Pesoan biasanya dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman kuno untuk memerankan satu bentuk tingkah laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan yag dimaksud dengan personare adalah bahwa para pemain sandiwara itu dengan melalui kedoknya berusaha menembus keluar untuk mengekspresikan satu bentuk gambaran manusia tertentu. Misalnya; seorang pemurung, pendiam, periang, peramah, dan lain sebagainya. Jadi personal itu bukan pribadi pemain itu sendiri, tetapi gambaran pribadi dari tipe manusia tertentu dengan melalui kedok yang dipakainya. b. Pengertian Secara Terminologis 1. MAY mengartikan kepribadian sebagai “a sosial stimus value”. Jadi menurutnya cara oarang lain mereaksi, itulah kepribadian individu. Dalam kata lain, pendapat orang lain-lah yang menentukan kepribadian individu itu. 2. McDougal dan kawan-kawannya berpendapat, bahwa kepribadian adalah “tingkatan sifat-sifat dimana biasanya sifat yang tinggi tingkatannya mempunyai pengaruh yang menentukan”. 3. Gordon W. Allport mengemukakan, “kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Kepribadian dapat juga diartikan sebagai kualitas perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik. Keunikan penyesuaian tersebut sanagt berkaitan dengan aspek-aspek kepribadian itu sendiri, yaitu meliputi hal-hal berikut: Karakter, tempramen, sikap, stabilitas emosional, resposibilitas, sosiabilitas. c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian Dalam perkembangan individu bukan saja fisik yang berkembang namun juga kepribadian. Kepribadian dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik pembawaan maupun lingkungan (seperti: fisik, sosial, kebudayaan, spiritual). a. Fisik. Faktor fisik dapat mempengaruhi kepribadian seseorang, faktor fisik yang dipandang mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah postur tubuh (langsing, gemuk, pendek atau tinggi), ketampanan/ kecantikan, kesehatan, keutuhan tubuh, dan keberfungsian organ tubuh. b. Inteligensi. Tingkat inteligensi individu juga dapat mempengaruhi kepribadian. Seseorang yang inteligensinya tinggi atau normal biasa mampyu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara wajar, sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan atau kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. c. Keluarga. Suasana atau iklim keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian. Keluarga adalah tempat awal anak bersosialisasi. Anak yang dibesarkan dalam lingkungsn keluarga yang harmonis dan agamis; dalam artian bahwa orang tua memberikan curahan kasih sayang, perhatian serta bimbingan dalam keluarga, maka perkembangan kepribadian anak tersebut cendrung positif. Sebagai orang tua, haruslah menghadirkan suasana yang disebut “Home” dimana anak diterima oleh keluarga sepenuhnya, sehingga anak tidak merasa dilantarkan. d. Lingkungan masyarakat, lingkungan juga dapat mempengaruhi kepribadian sesorang. Misalnya dalam lingkungan tersebut beribaca dengan gaya bahasa yang kasar, maka jika individu tersebut juga akan terpengaruhi dengan gaya dan bahasa orang-orang (lkingkungan) disekitarnya. e. Sekolah. Pengaruh sekolah dalam perkembangan kepribadian dapat dilihat dalam tiga kelompok, meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Kurikulum dan anak Dalam suatu sekolah pastinya memiki kurikulum, adanya kurikulum agar dapat menuntun lembaga kependidikan untuk lebih terarah dalam suatu sistem pendidikan dan untuk lebih mempersiapkan anak bagi kehidupannya dikemudian hari, banyak usaha yang dilakukan untuk mengubah cara mengajar dan bahan yang harus dipelajari. Dalam menjalankan kurikulum sebaiknya kurikulum harus disesuaikan dengan keadaan perkembangan belajar anak, dimana mencangkup keterampilan, pengetahuan,sikap yang perlu dibentuk oleh anak-anak untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di kemudian hari. Anak juga harus dibiasakan belajar dengan aktivitas sendiri, bukan secara pasif mengaharapkan apa yang diberikan oleh guru. 2) Hubungan antara guru dan murid Sepanjang anak berada disekolah, anak menganggap guru sumber kepandaian, sementara anak cenderung meniru tingkah laku guru. Anak juga peka terhadap sifat dan tingkah laku yang diperlihatkan guru, misalnya kejujuran, keadilan, penghargaan terhadap usaha, simpati, pengertian, kesanggupan menerangkan, serta sikap mengharap tingkah laku kooperatif dan terkendalikan para murid. 3) Hubungan antar anak Baik dalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah, kepribadian anak banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya. Dalam lingkungan sekolah, anak belajar dan bermain dengan teman-temannya, belajar bekerja sama dengan anak lain. Anak dan remaja berusaha untuk mencapai realisasi diri melalui keberhasilan. Ia harus melebihi hasilnya sendiri untuk dapat maju dan harus dapat menyaingi orang lain. Kepribadian bukanlah sesuatu yang statis. Menimbang bahwa kepribadian merupakan perpaduan dari beberapa sifat pembawaan yang diperlengkapi dengan unsur-unsur pembentukan dari beberapa sifat pembawaan yang dilengkapi dengan unsur-unsur pembetukan di tangan orangtua dan lingkungan, maka tentu saja termodifikasi terus sepanjang usia. Namun, peralihan itu lamban dan tidak segera dilihat orang lain. d. Faktor Pembentuk Kepribadian Berdasakan Tiga Aliran Terdapat tiga aliran besar yang memiliki asumsi berbeda dalam melihat faktor-faktor yang membentuk kepribadian yaitu: 1. Aliran Nativisme Aliran nativisme bertolak dari leibnitzian tradition yang menekankan kepada kemapuan dalam diri setiap pribadi sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap kepribadian. Aliran ini berpandangan bahwa segala sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Jadi, perkembangan individu itu semata-mata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar turunan. Misalnya, jika orangtuanya berkepribadian Kristen maka kemungkinan anaknya juga berkepribadian Kristen. Aliran nativisme berpandangan bahwa hereditas sebagai penentu kepribadian. Yang mendasari aliran nativisme ini, adalah bahwa pada kepribadian anak dan orang tua terdapat banyak kesamaan, baik dalam aspek fisik maupun psikis. Setiap manusia memiliki gen orangtua ini yang berpindah kepada anak. Bagi aliran nativisme lingkungan sekitar tidak ada artinya sebeb lingkungan tidak akan berdaya dalam memengaruhi kepribadian seseorang. Kepribadian buruk dan baik tidak dapat diubah oleh kekuatan lingkungan. Dapat dilihat bahwa aliran ini memiliki pandangan bahwa, kepribadian anak seluruhnya ditentukan oleh hukum-hukum pewarisan. Dan tokoh yang aliran nativisme ini adalah Arthur Schopenhaur (Jerman 1788-1866). Tokoh-tokoh yang lain seperti J.J. Rousseau seorang ahli filsafat dan pendidikan dari Prancis. Dimana kedua tokoh ini berpendapat betapa pentingnya “inti” privasi atau jati diri kepribadian manusia. Dengan bagitu aliran ini hampir mirip dengan keyakinan agama berbudaya yang menyatakan bahwa arwah serta pembawaan nenek moyang dapat kembali pada garis keturunannya. 2. Aliran Empirisme Aliran emprisme bertentangan dengan paham aliran nativisme. Emprisme (empris, artinya pegalaman) dan disebut juga aliran environmentalisme, yaitu aliran yang menitikberatkan pandangannya pada peranan lingkungan sebagai penyebab timbunya kepribadian. Aliran ini tidak mengakui adanya pembawaan atau potensi kepribadian yang dibawa manusia sejak kelahirannya. Aliran emprisme berpandangan bahwa kepribadian seseorang besar pengaruhnya pada faktor lingkungan. Inti aliran ini adalah menganggap kepribadian menjadi berbeda apabila dirangsang oleh usaha-usaha sekuat tenaga. Kepribadian manusia bukan sebuah robot yang diprogram secara deterministik, apalagi menyerah pada pembawaan nasibnya. Tokoh perintis aliran emprisme adalah John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa” yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman yang diperolehnya dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan kepribadian manusia. 3. Aliran Konvergengsi Aliran ini berpendapat bahwa corak kepribadian ditentukan oleh dasar (bakat, keturunan) dan lingkungan, kedua-duanya memainkan peranan penting. Aliran kongvergengsi ini menekankan bahwa hubungan antara faktor pembawaan sejak lahir dan faktor pengalaman diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Aliran konvergensi ini mempertemukan teori nativisme dan emprisme. Perintis aliran konvergensi adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan didunia disertai pembawaan baik atau buruk. Dalam kehidupan kepribadian bergantung juga kepada lingkungan sekitarnya. Kepribadian baik yang dibawa sejak kelahirannya tidak berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan dari lingkungan yang sesuai untuk perkembangan kepribadian. Dengan demikian inti ajaran konvergensi bahwa kepribadian tidak hanya ditentukan oleh faktor warisan, dan tidak juga ditentukan oleh faktor lingkungan. Kepribadian seseorang akan ditentukan oleh hasil perpaduan antara kedua faktor tersebut, hasil kerja sama antara faktor-faktor yang ada pada diri seseorang, dan faktor-faktor di luarnya akan membentuk suatu pribadi yang ideal C. Hubungan Antara Filsafat Dan Kepribadian Dalam membetuk kepribadian, filsafat juga memiliki peranan dalam pembentukan tersebut. Dengan mempelajari kepribadian manusia kita bukan saja hanya mengetahui apa dan untuk mengetahui siapakah sesungguhnya diri kita di dalam pemahaman tentang manusia yang menyeluruh namun juga mampu memberikan kepada kita pemahaman yang esensial tentang manusia, sehingga kita bisa meninjau secara kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik teori-teori yang terdapat di dalam ilmu-ilmu tentang manusia. dalam hubungan antara filsafat dan kepribadian ada beberapa aliran-aliran yang memiliki pandangan tentang hakikat manusia atau esensi manusia seperti materialisme, idealisme. Berikut aliran-aliran tersebut: a. Materialisme Materialisme adalah paham filsafat yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat fisik atau material. Dimana ciri utama dari kenyataan fisik atau materialadalah bahwa ia menempati ruang dan waktu,memiliki keluasan, dan bersifat objektif maka ia bisa diukur, dihitung, dioservasi. Spiritual atau jiwa yang tidak menempati ruang, tidak bisa disebut esensi kenyataan, dan oleh karena itu ditolak keberadaannya. Secara umum, materialisme berpendapat bahwa keberadaan dan kebenaran semua yang ada didunia ini adalah materi atau benda semata-semata. Istilah ide, jiwa, roh, kekuatan magis, dan sebagainya, keberadaan hanya merupakan akibat atau bentukan dari materi. Poedjawijatna (2005: 122) menggambarkan ajaran materialisme antara lain dengan mengemukakan pendapat yang dianggap pelopor materialisme, Lamettrie (1709-1751M), yang mengatakan bahwa manusia itu tidak berbeda dengan binatang, keduanya adalah sama dengan mesin. Keberadaan manusia adalah jasmaninya. Jenis lain dari materialisme adalah naturalisme. Disebut naturalisme adalah karena istilah materi diganti dengan istilah alam atau organise. Kedua aliran ini percaya bahwa setiap gejala, setiap gerak, bisa dijelaskan menurut kualitas, hukum sebab-akibat, atau hukum stimulus-respon. b. Idealisme Sudut pandang ini sebenarnya sudah dirintis oleh filosof besar Plato yang mengatakan bahwa realita atau kenyataan atau nilai estetika, nilai hukum, nilai agama, dan sebagainya. Dalam hal tertentu dalam masyarakat, pemikiran pragmatis ini dapat ditemukan misalnya dalam hal kebenaran ada setidaknya khasiat obat tradisoanal yang tidak perlu di bahas secara secara ilmiah, tidak perlu dipertimbangkan bertentangan dengan nilai moral atau tidak, tidak perlu ditinjau dari aturan hukum, dan sebagainya. c. Positivisme Aliran ini menurut Atang Abdul Hakim (2008: 296) mirip dengan aliran emprisme, namun tidak menyetujui pendapat John Locke yang masih mengakui pentingnya jiwa dalam mengolah apa yang ditangkap indra, tidak ad campur tangan yang bersifat batiniah . tokoh filsafat empirisme Agus Comte (1798-1857) antara lain berpendapat bahwa masyarakat meupakan bagian dari alam dan merupakan gejala fisik. d. Empirisme Bertolak belakang dengan idealisme , aliran empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan pengalaman manusia didapat dari hubungan manusia dengan lingkungannya melalui alat indra, bukan melalui pikiran. e. Pragmatisme secara umum, ajaran pragmatisme dalam filsafat dapat dilihat dari slah seorang tokohnya yaitu William James yang oleh Poedjawijatna dikutip pendapatnya bahwa pengertian atau keputusan itu benar jika ada praktik dapat digunakan. Perlu dipahami juga bahwa pandangan filsafat tentang unsur yang ada pada manusia berbeda dengan bagaimana psikologi berpendapat yang sama. Memang pada awalnya psikologi masih berpandangan filosofil, yaitu pada waktu psikologi masih belum menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Filosof Plato misalnya menghasilkan pemikiran bahwa manusia memiliki tiga unsur pokok kejiwaan, yaitu kemampuan berpikir yang dikatakan tempatnya pada otak manusia, kemampuan kehendak yang tempatnya didada, dan kemampuan nafsu yang tempatnya diperut. Bahasan filsafat tentang perilaku manusia menelaah tentang sumber perilaku dan tentang tata tingkah laku manusia. Tentang mengapa manusia berbuat sesuatu ada perbedaan pendapat antara lain pandangan indeterminisme dan pandangan determinisme. Tubuh seperti halnya benda-benda fisik lainya, terdiri dari partikel-paretikel yang bergerak dan memiliki keluasan. Jiwa, yang esensinya adalah kesadaran dan berpikir, keberadaannya tidak bergantung pada ruang dan waktu karena ia merupakan subtansi yang bukan fisik. Manurut Descrates, tubuh tanpa jiwa hanya akan menjadi otomat belaka, yang digerakan secara mekanis oleh stimulus eksternal dan kondisi-kondisi hidrolik internal atau “emosional” ¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬–jadi, tanpa kesadaran. Sebaliknya, jiwa atau roh tanpa tubuh memang bisa mempunyani kesadaran, tetapi ia hanya memiliki ide-ide bawaan saja; jadi, tidak bakal memiliki kesan-kesan indrawi yang lazimnya dimiliki oleh kesadaran manusia nrmal pada umumnya. Tubuh, bagaimanapun juga, menambah kekayaan isi pada kesadaran jiwa, sedangkan jiwa menambah rasioanlitas dan kehendak pada sebab-musabab perilaku. ¬¬¬¬¬¬Agustinus menentang ajaran yang mengatakan bahwa jiwa itu material. Menurut pendapatnya jiwa atau roh itu material. Agustinus membuktikan imaterialnya jiwa dengan mengatakan bahwa jiwa itu ada didalam badan pada waktu yang sama. Bila jiwa itu material, ia akan terikat pada tempat tertentu dalam badan. Hanya dengan mengatakan bahwa jiwa itu material kita dapat menjelaskan kegiatan jiwa dalam badan. Dari penjelasan diatas kita mengetahui bahwa setiap manusia memiliki pola pikir dan kepribadian serta pandangan mereka tersendiri yang ada didalam masing-masing individu. Dalam pandangan mekanistik, terdapat asumsi yang menyatakan bahwa semua proses, termasuk proses psikologis pada akhirnya dapat diredusir menjadi proses fisik dan kimiawi. Berdasarkan pandangan ini maka ahli psokologi perkembangan, seperti Locke dan Hume memandang manusia sebagai robot yang pasif, yang digerkan oleh daya yang berasal dari luar dirinya. Perkembangan manusia dipandang sebagai kegiatan yang disebabkan oleh daya dan kejadian pada lingkungannya. Lingkungan hidup manusia adalah lingkungan yang ada disekelilingnya dan yang mempunyai arti untuk kepentingan hidupnya. Oleh karena manusia bersifat reaktif-pasif, maka kita dapat melihat tingkah laku dari dari pada manusia itu sendiri dengan teori S-R (Stimulus-Respon). Didalam memahami hubungan antara filsafat dan kepribadian, kita harus bisa mengkaitkan antara cara berpikir seseorang dan tindakan yang akan dilakukan dalam meresponi pemikiran tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa berfilsafat tujuannya ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya. Jika kebendaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematis filsafat. Cara berpikir seseorang pastinya akan mempengaruhi tindakan yang dilakukannya, baik dalam mengambil keputusan, tindakan, dan kata-kata, dari hal inilah kita dapat menilai kepribadian seseorang. Yaitu dengan cara berpikir, berkata-kata dan tindakannya. Dan cara berpikir seseorang juga akan membuat sehingga seseorang itu memiliki cara pandang tersendiri mengenai sesuatu. Kita bisa melihat dari pandangan diatas menegenai perilaku manusia itu berbeda satu dengan yang lainya, pandangan ini dikarenakan konsep dan pola pikir yang berbeda, dengan apa seseorang menyampaikan pandangannya seperti itulah cara berpikir seseorang. D. Hubungan Antara Iman Kristen, Filsafat Dan Kepribadian Dalam sejarah perjalanan kekristenan di Amerika, banyak sekolah-sekolah tinggi seperti Harvad, Yale, Brown Princeton, Darmouth, Pennsylvania dan beberapa perguruan swasta lainya adalah badan pendidikan yang menganut konteks keilmuwan berdasarkan iman Kristen. Namun, perlahan-lahan mereka terinfiltrasi pengaruh sekuler dan kehilangan arah mereka sebagai perguruan tinggi Kristen. Seperti yang kita ketahui bahwa teori evolusi yang diajarkan Charles Darwin dalam ilmu biologi, membuat sekolah-sekolah di Amerika terlalu berlebihan dalam pengajaran mereka. Semua ini mengakibatkan terjadi kasus-kasus tuntutan hukum di pengadilan Amerika Serikat karena materi evolusi tersebut. Para pendidik Kristen pada saat itu perlu menekankan manusia dan alam semesta merupaka hasil cipataan dari Allah pencipta. Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang berpusat pada Allah, suatu implikasi dalam interprestasi kasih Allah. Oleh karena pendidikan Kristen adalah pendidikan yang berpusat pada Allah maka, kepribadian yang harus dimiliki oleh orang-orang Kristen haruslah menunjukan kepribadian Allah (sifat-sifat Allah). Menurut Comenius pendidikan Kristen adalah pendidikan yang berporos pada iman Kristen. Jadi Teologi adalah dasar pertama menyoroti teori dan praktek pendidikan. Kita mencatat pengalaman pribadi sebagai dasar kedua yang melandasi pandangannya tentang pendidikan. Gaya berpikir secara analogis adalah dasar ketiga. Melalui pendekatan itu ia menerapkan tinjauan tergadap dunia alam dan menelaah Alkitab dengan masalah atau isu pendagogis tertentu. Sebagai orang Kristen yang percaya kepada Alkitab, sabda Allah, kita seharusnya mempertimbangkan penjelasannya mengenai manusia. Didalam Alkitab dijelaskan manusia itu siapa dan apa manusia itu. Pertama, kitab Kejadian 1:26-27 menjelaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang membawa rupa dan gambar-Nya. Kalau Allah berpribadi, berarti manusia juga berpribadi. Allah juga memberikan berbagai potensi dalam diri manusia, seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir, merasakan, dan melakukan sesuatu berbuat, supaya manusia memuliakan dia. Kedua, kitab Kejadian 2:7 juga menjelaskan bahwa manusia yang diciptakan Allah terbentuk dari debu tanah dan padanya di hembuskan napas kehidupan (Ibr: nefes hayyah). Adanya nefes hanyyah itu membuat manusia membutuhkan Allah dalam seluru kehidupannya. Ketiga, Markus 12:29-30 menegaskan perkataan Yesus, agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi. Itu berarti pada diri manusia terkandung aspek lahiriah dan nonlahiriah; aspek material dan nonmaterial dalam satu kesatuan. Keempat, dalam kitab Ibrani 4:12 menjelaskan bahwa manusia memiliki roh dan jiwa, berarti aspek roh berbeda dengan jiwa. Dari beberapa ayat Alkitab yang telah dijelaskan, dapat di ambil kesimpulan bahwa manusia itu adalah makhluk jasmani, sosial, alam, rasional, dan spiritual. Manusia memiliki tubuh atau badan, jiwa atau nyawa, hati roh. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terus-menerus menyesuaikan diri dengan cara-cara tertentu, sehingga penyesuaian tersebut merupakan suatu pola. Alkitab dengan jelas telah memberikan pengajaran yang sehat kepada manusia agar manusia memiliki kepribadian yang benar dihadapan-Nya. Didalam Ulangan 6:6-9 dijelaskan bagaimana peran orang tua dalam mendidik anak, tujuannya adalah agar anak dapat memahami dan mengenal Tuhan dalam kehidupannya. Bukan hanya itu saja tetapi dengan mengajarkan kepada anak hal-hal yang bersifat rohani, maka didalam diri anak akan terbentuk kepribadian yang takut akan Tuhan. Hubungan timbal-balik antara individu dan lingkungan jelas berpengaruh terhadap pembentukan kepribadaian anak. Dalam membentuk anak, perlu selalu dilihat masalah di lingkungan manakah yang merupakan gangguan dalam perkembangan kepribadian anak tersebut. Apakah masalah hanya timbul dalam lingkungan ketika orang lain hadir? Ataukah justru timbul bila dalam lingkungan yang tidak ada orang. Didalam 1 Korintus 15:33 juga, mengajarkan bagaimana dalam hubungan timbal balik (pergaulan) haruslah diwaspadai, dari ayat ini sangatlah jelas peringatan yang diberikan kepada orang percaya kepda Tuhan Yesus untuk menjaga pergaulan, karena dengan pergaulan yang buruk itu juga akan membawa dampak yang merusak kepribadian yang baik. Disini kita bisa melihat bagaimana hubungan antara iman Kristen, Filsafat dan juga Kepribadian dalam iman Kristen. Kerpibadian kita akan menjadi kerpibadian yang baik jika kosep dan cara berpikir kita baik seperti yang telah dijelaskan dalam Alkitab. Konsep pemikiran seseorang akan terbentuk sejak kecil, dimana peran orang tua yang dibutuhkan didalam perkembangan kerpibadian, tetapi juga disamping itu lingkungan dan pergaulan juga berpengaruh terhadap terbentuknya kepribadian seseorang. Didalam semua itu jangan dilupakan bahwa peran Roh Kudus juga yang akan membentuk kerpibadian seseorang. Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama menguraikan hampir setiap bidang kepribadian, sikap, mental sehat, pembentukan ahklak, sikap dan tindakan yang tepat. Semuanya dibahas dalam konteks interelasi Allah dengan umat-Nya. Amsal Salomo membahas empat macam kepribadian yang miring. Mazmur membahas pengalaman dua golongan manusia, orang beriman dan mereka yang tidak beriman.Yeremia meratapi nasib orang yang tidak bersedia dibina oleh Sang pencipta. Untuk memperbaharui kepribadian ialah hubungan kreatif dengan Allah dalam Yesus. Roh Yesus hidup dalam setiap orang yang percaya (Rom 8:9-11) dan peran serta Roh itu merupakan sumber kemampuan yang tidak terbatas. Di antara segala hal yang dikerjakan olh Roh itu, yang paling ajaib adalah pembaharuan sifat, cara berpikir dn sikap seseorang. Buah karya Roh itu tidak lain adalah pembaharuan watak menuju kesehatan mental. Sifat-sifat baru itu tidak melahrkan masalah tetapi menyelesaikannya. Sifat, Sikap, cara berpikir dan tindakan orang yang percaya kepada Tuhan Yesus haruslah meneladani apa yang Ia teladankan bagi kita. Didalam diri orang percaya haruslah memiliki sifat dan karakter Kristus, dengan begitu Bapa disurga dipermuliakan. BAB III PENUTUP Kesimpulan Filsafat artinya cinta akan hikmat atau kebijaksanaan, filsafat mempengaruhi kepribadian dan kepribadian dipengaruhi oleh cara hidup individu, dan cara hidup kita dipengaruhi oleh kedekatan kita dengan Allah. Semakin dekat seseorang dengan Firman Tuhan maka kehidupannya akan semakin mencerminkan Firman Tuhan itu. Tujuan pendidikan adalah mempelajari hikmat, pengetahuan, dan kebenaran dan semuanya ini tidak terlepas dari pengetahuan akan Allah. Pendidikan Kristen berdasarkan pada penciptaan manusia oleh Allah, keberadaan hakikat individu otoritas orang tua, guru, mengajarkan kebenaran absolut (Alkitab), dan didikan untuk memulihkan gambar dan rupa Allah. Dalam Yakobus 1:2-8 menjelaskan bahwa hikmat itu berasal dari Allah, sumber pengetahuan berasal dari Allah (Amsl. 1:7) dan tingkah laku (kepribadain) merupakan penampilan dari keadaan batin. Bagi orang berdosa, tingkah laku menunjukan ketidakberesan (Mat.7; I Yoh. 4). Bagi orang beriman, sikap dan tingkah laku menunjukan kehadiran Roh Yesus. Ketabahan kasih yang melampaui kemampuan manusia berdosa akan terlihat pada orang percaya itu (Gal. 5:22,23). Oleh sebab itu sebagai orang percaya kita harus memiliki hikmat, pengetahuan dan kepribadian yang berlandaskan kebenaran Firman Tuhan. Saran dan Kritik Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber – sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Untuk itu saran dan kritik sangat diperlukan dalam menyempurnakan makalah ini. Saran bisa berisi kritik atau masukan terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar